Selasa, 18 November 2014

CARA MUDAH MELAKUKAN PTK



PENELITIAN, merupakan sebuah proses yang dilakukan melalui sebuah prosedur terencana, teratur dan sistematis untuk mendapatkan jawaban berupa kebenaran. Demikian juga dengan PTK dibutuhkan sebuah perencanaan yang matang untuk melaksanakannya. Perencanaan sendiri merupakan langkah pertama dari empat langkah yang dipersiapkan bagi PTK. PTK sebagai penelitian bersiklus atau berdaur mengisyaratkan bahwa setiap tahap akan berulang kembali secara berurutan. Kemudian ada beberapa langkah yang harus dilakukan pelaksanaan PTK.
          Menurut Lewis[1] Langkah-Langkah  Penelitian itu meliputi:
1.    Mengidentifikasi gagasan/permasalahan umum;
2.    Melakukan pengecekan di lapangan (reconnaissance);
3.    Membuat perencanaan umum;
4.    Mengembangkan langkah tindakan pertama;
5.    Mengimplementasi tindakan pertama;
6.    Mengevaluasi, dan
7.    Merevisi perencanaan umum.
          Kemudian beberapa langkah yang juga ditawarkan oleh pakar lainnya, seperti:
1. Mengidentifikasi Masalah;
2. Merumuskan Masalah;
3.Merumuskan Hipotesis Tindakan;
4.Membuat Rencana Tindakan dan Pemantauan;
5.Melaksanakan Tindakan dan Mengamatinya;
6.Mengolah dan Menafsirkan Data;
7.Analisis Data;
8.Validasi Data dan Kredibilitas PTK;
9.Melaporkan Hasil Penelitian.
          Beberapa ahli lain juga menawarkan langkah singkat, seperti Mills (2000), yang hanya menawarkan empat langkah, seperti
1.    Mengidentifikasi satu bidang yang menjadi perhatian kita,
2.    Mengumpulkan data,
3.    Menganalisis dan menginterpretasikan data,
4.    Mengembangkan rencana tindakan.
          Selain itu ada empat langkah utama lainnya, yang ditawarkan IGAK  Wardhani dan Kuswaya Wihardit (2011:2.4) berikut ini.
Pertama, mengidentifikasi masalah,
Kedua, menganalisis dan merumuskan masalah,
Ketiga, merencanakan PTK
Keempat,melaksanakan PTK
          Setiap peneliti mempunyai kecenderungan pada langkah-langkah yang dianggap paling praktis dan membantu proses pelaksanaannya. Dari sekian banyak versi langkah-langkah yang ditawarkan para ahli. Pada pembahasan ini kita akan membuat langkah yang lebih singkat dan lebih sederhana dalam rangka memberikan kemudahan bagi guru muda atau peneliti pemula.
#Langkah Pertama Memahami Masalah
Ada dua hal yang tidak perlu kita khawatirkan dalam dunia pendidikan atau dalam kegiatan pembelajaran. Pertama kita tidak perlu khawatir kekurangan masalah; Kedua kita tidak perlu bingung dengan solusinya. Mengapa? Karena masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran sangat banyak, dari yang sangat kecil sampai yang paling besar. Ada yang sederhana, tidak sedikit yang pelik dan rumit. Semua ada, kita tinggal memilih dan menentukan harganya...ups! Ini bukan tentang barang, ini masalah. Betul masalah pun ada harganya, tentukan yang berkaitan dengan waktu, tenaga dan biaya yang tersedia. Terkait dengan hal itu kita bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi kita. 
          Begitu pula dengan solusinya, kita tidak perlu khawatir. Ada banyak solusi yang ditawarkan atas penyelesaian masalah yang kita hadapi. Setelah kita menetapkan masalah yang akan kita teliti, baru memilih solusinya. Kegiatan ini pun tidak terlalu sulit, Mengapa? Karena, sebagaimana masalah, beragam solusi pun tersedia disekitar kita. Sekali lagi kita tinggal memilih dan menentukannya. Baiklah, aku merasa anda mulai tidak sabar ingin membuktikannya.
Pertama bagaimana cara mudah menemu-kenali masalah. Masalah kelas adalah masalah yang muncul pada proses pembelajaran. Guru sebagai pengelola pembelajaran  yang merasakan ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan. Ini yang disebut mengidentifikasi masalah. Sesuatu yang akan berdampak buruk bagi hasil belajar peserta didik yang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Indikatornya dapat terlihat ketika kita perhatikan kenyataannya (kenyatanya seperti apa?), kemudian bandingkan dengan yang semestinya (semestinya bagaimana?). Namun jika dirasakan masih membingungkan dalam mengenali masalah, Anda boleh memulainya dari gagasan untuk melakukan perbaikan. Pemilihan Masalah, Anda boleh juga mengajukan beberapa pertanyaan seperti, Masalah apa yang mesti diteliti?; Apakah masalah diteliti benar-benar yang terjadi di kelas sendiri?; Apakah masalah yang diteliti masalah yang penting dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran; Apakah masalah dapat kita kelola? (pertimbangan adalah biaya, waktu, fasilitas, literasi atau landasan teoritis, serta penguasaan terhadap instrument penggali data); Apakah Anda memahami penyebab dan cara memecahkan masalah kelas tersebut?; Apakah Anda telah mengetahui alasan tindakan dilakukan?; Apakah Anda telah mengetahui jawaban sementara atas masalah yang akan diteliti?. Demikian beberapa pertanyaan yang dapat diajukan guru dalam memahami masalah yang akan diteliti. Selain mengajukan beberapa pertanyaan, Anda juga patut menghindari beberapa masalah atau penyebab masalah yang tidak mungkin dapat diselesaikan sendiri. Atau masalah yang di luar jangkauan tugas kita sebagai guru. Hindari masalah yang tidak pernah terjadi di kelas kita. Hindari masalah yang besar dan luas yang hanya dapat diselesaikan dalam jangka waktu lama dan melibatkan banyak pihak pengambil kebijakan.
          Mungkin hal berikut ini dapat membantu Anda memahami masalah PTK,
Pertama. pastikan yang diteliti adalah masalah pengelolaan kelas dan proses pembelajaran, upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, upaya meningkatkan partisipasi peserta didik dalam pembelajaran, upaya menerapkan pendekatan pembelajaran, atau media atau metode evaluasi pengembangan kurikulum; Kedua, masalah yang berhubungan dengan sumber belajar, bahwa guru bukan satu-satunya sumber belajar. Seperti upaya pengembangan model belajar, alat peraga, sumber belajar yang dekat dengan lingkungan sekolah sebagai upaya menghubungkan pengetahuan akademik dengan pengalaman sehari-hari peserta didik, Ketiga, masalah yang berhubungan dengan upaya guru peningkatan kualitas diri dan profesi guru. Upaya meningkatkan hubungan antara peserta didik, guru dan orang tua, upaya membangun konsep diri peserta didik. Upaya membangun konsep diri peserta didik. Kedua, bagaimana cara mudah menemu-kenali solusinya. Menyadari ada sesuatu yang perlu diperbaiki merupakan kesadaran yang sudah lumayan memadai untuk melakukan PTK. Kita pahami dahulu apa yang dimaksud dengan masalah. Makna masalah yang kita bahas disini tidak berbeda dengan makna masalah yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Anda tentu sering melihat, mendengar, menyaksikan atau menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan yang semestinya. Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan. Itulah yang dinamakan dengan masalah. Mestinya materi pembelajaran dapat dimengerti oleh peserta didik, nyatanya mereka masih banyak yang belum memahami. Mestinya proses pembelajaran dapat melibatkan seluruh peserta didik, tetapi hanya mampu melibatkan sebagian kecil dari mereka.
          Upaya mencari solusi sebagai dasar merumuskan hipotesis tindakan, Anda melibatkan sejawat sebagai kawan diskusi, mempelajari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, perbanyak literasi yang berhubungan tindakan, mempelajari dan tentukan alternatif tindakan-tindakan yang relevan dengan kelas dan  masalah yang akan di atasi.
#Langkah Kedua, Membuat Perencanaan
          Membuat rancana tindakan merupakan langkah besar kedua yang harus kita tempuh. Rencana tindakan kelas  merupakan suatu rencana perbaikan yang bersifat progress, prospek dan fleksibel dengan pertimbangan perubahan, terhadap hal tak terduga, kendala yang dihadapi bahkan resiko. Karena itu guru sebagai peneliti harus bertindak bijaksana, cermat, teliti, dalam mencari cara mengatasi masalah atau melakukan perbaikan. Ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian guru adalah, Pertama, rencana tindakan atau rencana perbaikan terlebih dahulu dirumuskan dalam bentuk ‘hipotesis tindakan’ atau ‘dugaan guru terhadap cara terbaik dalam mengatasi masalah’. Agar dugaan atau hipotesis yang rumuskan memiliki kekuatan, maka harus dibangun berdasarkan landasan teori yang kokoh. Atau berdasarkan kajian hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan dalam masalah yang serupa. Landasan teori sebagai gagasan ideal dapat juga dibangun dari pengalaman emperik penulis atau hasil diskusi dengan teman sejawat, pakar pendidikan. Dari hasil kajian inilah guru kemudian menyusun berbagai alternatif tindakan. Kemudian mengkaji setiap alternatif yang berkaitan dengan tujuan tindakan atau tujuan perbaikan. Selain itu juga berhubungan dengan kelayakan pelaksanaan tindakan nanti.
          Kedua, setelah Anda memiliki ketetapan hati  terhadap alternatif hipotesis yang terbaik, maka selanjutnya adalah mengkaji kembali kelayakan ‘hipotesis tindakan’. Cara sederhana untuk melakukannya adalah cukup dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri tentang kemungkinan rencana tindakan tersebut dapat dilaksanakan. Apakah guru memiliki komitmen yang cukup, kemampuan yang memadai untuk melaksanakan dan menyelesaikan PTK?; Apakah kemampuan dan kondisi fisik dan psikologis peserta didik kita dapat mengikuti tindakan dengan baik?; Apakah fasilitas yang dibutuhkan dalam tindakan dapat tersedia atau terpenuhi tanpa kendala?; Apakah tindakan telah mendapat dukungan dari iklim kelas dan sekolah?; Apakah tindakan ini merupakan tindakan yang paling layak diantara alternatif tindakan lainnya?
# Langkah Ketiga Melaksanakan Tindakan
Tibalah kita pada langkah ketiga, yaitu melaksanakan tindakan. Tenangkan hati Anda, tidak perlu terlalu khawatir bukankah kita telah melewati dua langkah besar sebelumnya.  Bukankah, kini Anda telah memahami masalah dan telah memiliki perencanaan? Masalah sudah dipahami, rencana sudah dimiliki, maka semestinya tidak ada keraguan lagi untuk melaksanakannya.
          Pelaksanaan tindakan memang dituntun oleh rencana tindakan yang sebelumnya telah Anda buat. Namun kita tidak boleh terlalu kaku mengikutinya. Mengapa? Karena tugas utama guru adalah mengajar dan mendidik. Diharapkan dengan demikian metodologi penelitian kita tidak sampai mengganggu komitmen kita sebagai guru. Jangan sampai mengorbankan hak peserta didik dalam pembelajaran. Karena itu lakukan tugas penelitian secara profesional bersamaan dengan tugas mengajar yang tetap dalam nuansa profesional pula. Kita harus mengikuti dinamika proses pembelajaran di kelas yang cenderung dinamis dan menuntut kemampuan guru menyesuaikan diri.
          Sebagai guru yang juga peneliti, kita harus bersikap fleksibel. Skenario kita bukan harga mati, ia tidak boleh kaku apalagi beku dalam penerapannya, sekalipun telah matang direncanakan. Jika terjadi sesuatu di luar dugaan sebelum catatlah atau rekamlah peristiwa tersebut dalam lebar khusus berupa lembar anekdot. Peningkatana atau perbaikan pada saat tindakan merupakan data yang harus kita rekam dan hargai sama dengan faktor yang muncul sebagai penyebab kegagalan tindakan jika terjadi. Dengan kata lain data yang kita ambil mencakup data apa saja yang terjadi ketika tindakan dilakukan. terkait dengan orang, situasi, kondisi, perubahan, pengaruh, sikap, motivasi, prestasi, pola interaksi yang terjadi, deskripsi prilaku yang muncul, jadwal, rekaman, audio, video, foto, slide serta kinerja guru. semuanya harus dalam jangkauan pantauan alat penggali data.
          Pastikan pelaksanaan tindakan dalam PTK Anda, tetap berada dalam siklus yang terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi.
          Perencanaan, atau planning tindakan meliputi, semua langkah tindakan yang telah dibuat secara rinci, segala keperluan pelaksanaan tindakan seperti materi, sumber belajar, media, metode, teknik, strategi, pendekatan dan instrumen observasi atau perangkat penggali data, perkiraan dan antisipasi kendala yang mungkin timbul dalam pelaksanaan,
          Tindakan, merupakan tahapan guru mulai bertindak, guru harus realistis menerapkan teori dan teknik mengajar serta konsep tindakan yang sudah dipersiapkan
          Pengamatan, merupakan tahapan pengumpulan data dan informasi dalam pengamatan tindakan. Pengamatan atau observasi yang dikendalikan oleh instrumen yang telah kita buat dan mungkin melibatkan pengamat dari luar. Penggunaan teknik pengumpulan data dalam PTK sangat ditentukan oleh sifat dasar data yang akan dikumpulkan. Begitu pula dengan aspek yang harus diamati dalam PTK. Beberapa aspek yang tidak pernah luput dalam pengamatan adalah, proses tindakannya, pengaruh tindakan baik yang diduga maupun yang tak terduga, keadaan dan kendala yang dihadapi, faktor yang mempermudah atau menghambat tindakan yang telah direncanakan, pengaruh timbal balik antara tindakan dan faktor lain, persoalan lain yang timbul selama tindakan berlangsung. Semuanya akan menjadi data penelitian, yang akan menjadi dasar pijakan bagi tahapan berikutnya yaitu refleksi.
          Refleksi. sebagaimana kita bahas sebelumnya bahwa data penelitian tindakan akan berfungsi sebagai dasar pijakan atau landasan dalam melakukan refleksi. Data yang diperoleh dalam penelitian merupakan hasil yang akan menjadi bahan untuk membangun tindakan selanjutnya. Data yang terkumpul dari seluruh rekaman audio, video, foto dan catatan instrument penggali data, baik dari hasil observasi partisipan dan non partisipan, terstruktur, tidak terstruktur, dan yang berupa anekdot, hasil angket, wawancara, dan lain semacamnya.
          Refleksi terhadap tindakan merupakan upaya melakukan analisis terhadap data, dapat melibatkan orang lain, dan bersama-sama menarik kesimpulan. Pada tahapan ini kita mengolah dan menafsirkan data-data yang diperoleh tadi. Pada tahapan refleksi ini kita melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan dalam pembelajaran, membuka ruang diskusi untuk membahas hasil evaluasi tindakan dan skenario pembelajaran yang telah dilakukan, hasil evaluasi dalam diskusi akan menjadi catatan dalam siklus berikutnya.
          Refleksi dibutuhkan untuk memahami semua data hasil tindakan yang dilakukan dalam proses pembelajaran. Aktivitas transfer belajar yang berlangsung di kelas. Suasana dan interaksi yang berlangsung selama kegiatan PTK. Melalui refleksi guru berusaha memahami proses yang berlangsung, maslah yang timbul, persoalan dan kendala yang terjadi dalam tindakan. Memahami dalam berbagai perspektif dan aspek pendidikan.
          Semua data PTK yang terkumpul harus dianggap berharga oleh guru, tanpa kecuali. Data-data tersebut harus diperiksa sebagai landasan refleksi. Begitu pula perbandingan data yang diperoleh dari guru peneliti dan kolaborator. Data yang terkumpul dari beragam teknik  diharapkan dapat meningkatkan objektivitas. Sehingga perbaikan dan perubahan yang terungkap melalui betul-betul terjadi secara makna. Perubahan dan perbaikan terjadi dapat terkontrol dan dapat diperiksa oleh siapa pun. Begitu pula dengan hasil analisis data dapat disajikan secara kualitatif deskriptif dan pada aspek lainnya dapat disajikan secara kuantitatif.  [M3BG]


[1] Rochiati, 2008:100

PTK YANG BAIK



SEBAGAIMANA sebuah penelitian, PTK yang baik dan dapat dipercaya akan terlihat dari bagaimana PTK itu dilakukan. Apakah dilakukan dengan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah, memalui metode ilmiah yang sesuai dengan standar ilmiah. Atau dilakukan sebaliknya melanggar kaidah-kaidah ilmiah melalui cara alamiah dengan standar alamiah. Derajat kepercayaan terhadap suatu penelitian menurut para ahli terlihat dari validitas dan kredibilitas pelaksanaan penelitian. Menurut mereka PTK yang tergolong bertradisi kualitatif dengan sifatnya yang deskriptif dan naratif memiliki cara-cara tersendiri dalam melakukan validasi dan reliabilitas. Validasi menunjuk pada derajat kesahihan terhadap proses dan hasil PTK, sedangkan reliabilitas mengarah pada sejauhmana metode yang sama menjanjikan hasil yang sama dengan kajian sebelumnya. Namun Anda tidak perlu terlalu khawatir, karena PTK tidak seketat jenis penelitian lain. Pasalnya PTK memiliki karakteristik kontektual dan situasional
          Penelitian kualitatif termasuk PTK dikatakan akurat dan dapat dipercaya dilihat dari standar kualitas tertentu.  Howe dan Eisenhardt (1990) dalam Ceswell (1998)[1] menyatakan ada lima standar, yaitu Pertama, Penilaian kajian terutama diarahkan kepada apakah pertanyaan penelitian mendorong dilakukannya pengumpulan data dan analisisnya, dan bukan sebaliknya. Kedua, Penilaian ditujukan kepada apakah pengumpulan data analisisnya secara teknis dilakukan dengan kompeten. Ketiga, Penilaian mempertanyakan apakah peneliti menyusun asumsi-asumsinya secara eksplisit, termasuk subjektivitas peneliti. Keempat, Penilaian juga perlu diarahkan kepada apakah kajian itu cukup tegar, dengan menggunakan eksplanasi yang berdasar kepada teori-teori yang diakui, serta mendiskusikan eksplanasi mengapa teori-teori tertentu ditolak. Kelima, Penilaian seharusnya memiliki "nilai", baik dalam memberikan informasi baru maupun dalam meningkatkan keterampilan meneliti, baik dalam melindungi hal-hal yang terkait dengan privasi seseorang maupun dalam memegang kebenaran dari semua partisipan penelitian (masalah etika penelitian).
          Konsep validitas dalam aplikasinya dalam PTK mengacu kepada kredibiltas dan derajat kepercayaan dari hasil penelitian.  Karena itu Borg dan Gal (2003) merujuk kepada Anderson dan Herr dalam Rochiati (2008:164) mengemukakan ada lima tahap kriteria validitas, yaitu sebagai berikut. #Pertama,  Validitas hasil, yang peduli dengan sejauh mana rindakan dilakukan untuk memecahkan masalah dan mendorong dilakukannya penelitian tindakan kelas atau dengan kata lain, seberapa jauh keberhasilan dapat dicapai. Dalam penelitian yang dilakukan para praktisi, perhatian tidak hanya tertuju kepada penyelesaian masalah semata, melainkan juga kepada bagaimana menyusun kerangka pemikiran dalam menyajikan masalah yang kompleks yang sering kali memicu munculnya masalah baru dan pertanyaan baru. Jadi kriteria ini mencakup juga sifat mengulang pada siklus-siklus penelitian tindakan kelas, dan pada dua tahap penting pada bagian akhirnya yakni pada refleksi dan pada saar menentukan tindakan lanjutan atau tindakan modifikasi dalam siklus baru.
          Sebagai contoh oleh Borg dan Gall dikemukakan penelitian tindakan kelas Dabisch, seorang guru yang tadinya hanya ingin mengubah posisi bangku belajar siswa dan melihat dampaknya, ternyata bahwa para siswa menyukai penataan bangku yang baru. Akan tetapi, perubahan tersebut memberikan dampak negatif, yaitu siswa lebih banyak berbicara yang bukan bahan pelajaran dan tidak mendorong mereka melakukan kerja sama. Pengetahuan baru ini mendorongnya kepada tindakan-tindakan lain dalam rangka penelitian, dengan mengumpulkan data yang diperlukan. Setiap tindakan memberikan hasil baru dan informasi untuk tindakan selanjutnya. Pada setiap tindakan Dabisch berbagi refleksi dengan para mitra penelitinya dan di dalam laporan penelitiannya. Pada langkah berikutnya, berdasarkan pengalaman ini, ia merencanakan penelitian tindakan baru mengenai pemberian tugas kepada siswa yang mendorong mereka untuk belajar lebih kooperatif. Ia menyatakan kepuasannya melakukan penelitian tindakan, yang dianggapnya telah meningkatkan keterampilan mengajarnya. Inilah contoh dan bukti validitas hasil, yang menunjukkan keberhasilan kelompok kerja siswa dan modifikasi yang berkelanjutan yang dilakukan dalam praktik guru.
          #Kedua Validitas Proses, yaitu memeriksa kelayakan proses yang dikembangkan dalam berbagai fase penelitian tindakan. Misalnya, bagaimana permasalahan disusun kerangka pemikirannya dan bagaimana penyelesaiannya sedemikian rupa sehingga peneliti di dalam menghadapinya mendapat kesempatan untuk terus belajar sesuatu yang baru. Triangulasi data, perspektif yang majemuk dan keragaman sumber data merupakan sumbangan kepada validitas proses. Laporan naratif merupakan representasi atau penjelasan dari kenyataan yang dikomunikasikan melalui berbagai bentuk cerita. Dalam menentukan kredibilitas dan derajat kepercayaan narasi ini, haruslah setia kepada gambaran yang akurat dari apa yang sebenarnya terjadi, dan bukan kisah subjektif atau dilebihlebihkan
agar menarik.
          #Ketiga Validitas Demokratis, yaitu merujuk kepada sejauh mana PTK berlangsung secara kolaboratif dengan para mitra peneliti, dengan perspektifyang beragam dan perhatian terhadap bahan yang dikaji. Sebagai contoh, penelitian tindakan kelas dari Dabisch, yang selama berlangsungnya penelitian ia melibatkan para siswanya untuk mendapatkan kerja sama mereka dalam pengumpulan dan penafsiran data misalnya. Dalam refleksinya, Dabisch mencatat bahwa berbagai apa yang ia lakukan di kelas dalam rangka penelitiannya menyebabkan mereka merasa sebagai bagian dari apa yang sedang terjadi, dan mereka mempunyai andil dalam suara mereka, karena Dabisch selalu bertanya apa pendapat mereka dalam berbagai aspek penelitian. Itulah upaya untuk memperkuat validitas demokratis dalam penelitian tindakan kelas.
          #Keempat Validitas Katalistik (dari kata katalisator), yakni sejauh mana penelitian berupaya mendorong partisipan mereorientasikan, memfokuskan dan memberi semangat untuk membuka diri terhadap transformasi visi mereka dalam menghadapi kenyataan kondisi praktik mengajar mereka sehari-hari. Validitas dalam aspek ini ditunjukkan misalnya oleh catatan dalam jurnal yang dibuat oleh peneliti dan mitra peneliti, yang dalam tahap refleksi akan menunjukkan proses perubahan dalam dinamika pembelajaran di kelas yang menjadi latar sosial (social setting) dari penelitian.
          #Kelima Validitas Dialog, yaitu merujuk kepada dialog yang dilakukan dengan sebaya mitra peneliti dalam menyusun dan mereview hasil penelitian beserta penafsirannya. Dialog ini bisa dilaksanakan secara kolaboratif dalam merefleksi dengan para mitra peneliti, dengan pakar peneliti di luar penelitian atau dengan teman sejawat yang kritis berbagai aspek penelitian terutalna dalam penjelasan data penelitian. Dabisch, dalam penelitian tindakan kelasnya, ternyata melakukan banyak dialog dengan teman-teman kuliahnya di universitas. Ia menyatakan bahwa kawan-kawan kuliahnya di universitas tempatnya melanjutkan studi keguruan banyak membantu dalam melahirkan gagasan-gagasan untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut, dan menyadarkan dirinya tentang betapa pentingnya menjadi anggota komunitas guru peneliti.
          Sementara itu, Hopkins (1993:156) dalam Rochiati (2008:168), berpendapat bahwa untuk menguji derajat keterpercayaan atau derajat kebenaran penelitian, ada beberapa bentuk validasi yang dapat dilakukan dalam penelitian tindakan kelas pertama, dengan melakukan member check, yakni memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang diperoleh selama observasi atau wawancara dari nara sumber yang relevan dengan PTK (kepala sekolah, guru, teman sejawat, siswa, pegawai administrasi sekolah, orang tua siswa, dan lainlain) apakah keterangan atau informasi atau penjelasan itu tetap sifatnya atau tidak berubah sehingga dapat dipastikan keajegannya dan data itu terperiksa kebenarannya. Kedua dengan triangulasi, yaitu memeriksa kebenaran hipotesis, konstruk atau analisis dari si peneliti dengan membandingkan hasil dari mitra peneliti. Triangulasi dilakukan berdasarkan tiga sudut pandang, yakni sudut pandang guru sebagai peneliti, sudut pandang siswa dan sudut pandang mitra peneliti yang melakukan pengamatan atau observasi. Ketiga, dengan melakukan saturasi, yakni situasi pada waktu data sudah jenuh, atau tidak ada lagi data lain yang berhasil dikumpulkan atau tidak ada lagi tambahan data baru. Keempat, dengan cara menggunakan pembandingan atau dengan eksplanasi saingan atau kasus negatif'. Peneliti tidaklah melakukan upaya untuk menyanggah atau membuktikan kesalahan penelitian saingan, melainkan mencari data yang akan mendukungnya. Apabila peneliti tidak berhasil menemukannya, hal ini mendukung kepercayaan terhadap hipotesis, konstruk, atau kategori dalam penelitian. Kelima dengan audit trail, yakni memeriksa kesalahan-kesalahan dalam metode atau prosedur yang digunakan peneliti dan di dalam pengambilan kesimpulan. Selain itu, peneliti juga memeriksa catatan-catatan yang ditulis oleh peneliti atau mitra peneliti. Audit trail dapat dilakukan oleh kawan sejawat peneliti, yang memiliki pengetahuan dan keterampilan melakukan penelitian tindakan kelas yang sama seperti peneliti itu sendiri. Keenam, dengan expert opinion, yakni dengan meminta kepada orang yang dianggap ahli atau pakar penelitian tindakan kelas atau pakar bidang studi untuk memeriksa semua tahapan-tahapan kegiatan penelitian dan memberikan arahan atau judgemenrs terhadap masalah-masalah penelitian yang dikaji. Ketujuh dengan kry respondentsreview yakni meminta salah seorang atau beberapa mitra peneliti yang banyak mengetahui tentang penelitian tindakan kelas, untuk membaca draf awal laporan penelitian dan meminta pendapatnya.
          Berbagai cara validasi ini menurut Dunn dan Swierezek  dalam Hopkins (Rochiati,2008:171), dilakukan agar dalam memunculkan secara grounded hipotesis, konstruk, kategori, bahkan kemungkinan teori mendapat derajat keterpercayaan yang tinggi, dan kita merasa percaya diri akan kehandalannya. aplikasi dari teori yang grounded menjanjikan kontribusi perbaiakan sesuai dengan derajat temuan yang pertama, merefleksikan kondisi yang aktual hadir dalam upaya perubahan (internal validity); kedua, kondisi tipikal secara aktual hadir dalam upaya perubahan (external validity); ketiga, kontribusi berbagai konsep baru melalui komparasi informasi yang terus menerus/berkelanjutan dengan menggunakan berbagai metode (reflexivity); keempat, meningkatkan pengertian di antara kelompok-kelompok yang menggunakan kerangka referensi yang berbeda.
          Kemudian Rochiati (2008:171) menyimpulkan validasi data dan kredibilitas penelitian, yaitu dengan mengkaji dan mengimplementasikan berbagai langkah validasi. Selanjutnya Rochiati mengutip pendapat Peshkin  dalam Creswell (1998) standard kualitas penelitian kualitatif sangat ditentukan oleh kategori untuk menguji definisi, interpretasi dan evaluasi, yang berlangsung secara terus-menerus dan berkelanjutan selama pengumpulan data, analisis, dan penuliisan laporan dilakukan.
          Sedangkan Lincoln dan Guba (1985) dalam Rochiati (2008:172) menyatakan bahwa standard yang harus dipegang dalam penelitian kualitatif adalah pentingnya memiliki tradisi sendiri yang tegar dan komunikatif melalui consensus; di samping pengakuan dan penghormatan terhadap suara dan pandangan para mitra atau partisipan penelitian yang harus didengar dan tidak boleh di diamkan atau disingkirkan; kecuali itu perlunya keasadaran akan kondisi subyektif-kritis dari peneliti secara psikologis sebelum, selama, dan sesudah peneltian berlangsung; serta pengakuan terhadap karakter kolaboratif dan egalitarian diantara sesama mitra peneliti. Mengenai bentuk-bentuk validasi untuk mencapai kredibilitas penelitian terdapat pandangan yang mencari ekuivalen dari persyaratan validasi dalam penelitian kuantitatif seperti validitas dan reliabelitas yang baku; akan tetapi ada juga pendapat yang tidak setuju, karena akan mengaburkan konsep-konsep prinsipil dalam penelitian kualitatif.
          Pendapat Lincoln dan Guba lebih cenderung untuk perpanajgan waktu di lapangan, triangulasi data, metode, dan investigator; serta menggunakan dependabilitas dan konfirmabilitas sebagai penganti reliabilitas. Borg dan Gall (2003) menganjurkan dipakainya validasi proses, validasi demokratik, validasi katalitik, dan validasi dialog; mereka juga mengakui kemungkinan bentuk validasi lain yang ditetapkan oleh para peneliti sendiri. Sedangkan Hopkins (1993) mengajukan bentuk-bentuk validasi member check, triangulasi, saturasi, eksplanasi saingan atau kasus negatif, audit trail, exxxpert opinion, dan key respondents review. [M3BG]]


[1]Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru.Ed 1,-4.-Jakarta: Rajawali Pers,2009.hlm.103