SEBAGAIMANA
sebuah penelitian, PTK yang baik dan dapat dipercaya akan terlihat dari
bagaimana PTK itu dilakukan. Apakah dilakukan dengan mengikuti kaidah-kaidah
ilmiah, memalui metode ilmiah yang sesuai dengan standar ilmiah. Atau dilakukan
sebaliknya melanggar kaidah-kaidah ilmiah melalui cara alamiah dengan standar
alamiah. Derajat kepercayaan terhadap suatu penelitian menurut para ahli
terlihat dari validitas dan kredibilitas pelaksanaan penelitian. Menurut mereka
PTK yang tergolong bertradisi kualitatif dengan sifatnya yang deskriptif dan
naratif memiliki cara-cara tersendiri dalam melakukan validasi dan
reliabilitas. Validasi menunjuk pada derajat kesahihan terhadap proses dan
hasil PTK, sedangkan reliabilitas mengarah pada sejauhmana metode yang sama
menjanjikan hasil yang sama dengan kajian sebelumnya. Namun Anda tidak perlu
terlalu khawatir, karena PTK tidak seketat jenis penelitian lain. Pasalnya PTK
memiliki karakteristik kontektual dan situasional
Penelitian kualitatif termasuk PTK
dikatakan akurat dan dapat dipercaya dilihat dari standar kualitas
tertentu. Howe dan Eisenhardt (1990)
dalam Ceswell (1998)[1] menyatakan
ada lima standar, yaitu Pertama, Penilaian
kajian terutama diarahkan kepada apakah pertanyaan penelitian mendorong
dilakukannya pengumpulan data dan analisisnya, dan bukan sebaliknya. Kedua, Penilaian ditujukan kepada apakah
pengumpulan data analisisnya secara teknis dilakukan dengan kompeten. Ketiga, Penilaian mempertanyakan apakah
peneliti menyusun asumsi-asumsinya secara eksplisit, termasuk subjektivitas peneliti.
Keempat, Penilaian juga perlu
diarahkan kepada apakah kajian itu cukup tegar, dengan menggunakan eksplanasi
yang berdasar kepada teori-teori yang diakui, serta mendiskusikan eksplanasi
mengapa teori-teori tertentu ditolak. Kelima,
Penilaian seharusnya memiliki "nilai", baik dalam memberikan informasi
baru maupun dalam meningkatkan keterampilan meneliti, baik dalam melindungi
hal-hal yang terkait dengan privasi seseorang maupun dalam memegang kebenaran
dari semua partisipan penelitian (masalah etika penelitian).
Konsep validitas dalam aplikasinya
dalam PTK mengacu kepada kredibiltas dan derajat kepercayaan dari hasil
penelitian. Karena itu Borg dan Gal
(2003) merujuk kepada Anderson dan Herr dalam Rochiati (2008:164) mengemukakan ada
lima tahap kriteria validitas, yaitu sebagai berikut. #Pertama, Validitas hasil, yang peduli dengan
sejauh mana rindakan dilakukan untuk memecahkan masalah dan mendorong dilakukannya
penelitian tindakan kelas atau dengan kata lain, seberapa jauh keberhasilan
dapat dicapai. Dalam penelitian yang dilakukan para praktisi, perhatian tidak hanya
tertuju kepada penyelesaian masalah semata, melainkan juga kepada bagaimana menyusun
kerangka pemikiran dalam menyajikan masalah yang kompleks yang sering kali
memicu munculnya masalah baru dan pertanyaan baru. Jadi kriteria ini mencakup
juga sifat mengulang pada siklus-siklus penelitian tindakan kelas, dan pada dua
tahap penting pada bagian akhirnya yakni pada refleksi dan pada saar menentukan
tindakan lanjutan atau tindakan modifikasi dalam siklus baru.
Sebagai contoh oleh Borg dan Gall
dikemukakan penelitian tindakan kelas Dabisch, seorang guru yang tadinya hanya ingin
mengubah posisi bangku belajar siswa dan melihat dampaknya, ternyata bahwa para
siswa menyukai penataan bangku yang baru. Akan tetapi, perubahan tersebut memberikan
dampak negatif, yaitu siswa lebih banyak berbicara yang bukan bahan pelajaran
dan tidak mendorong mereka melakukan kerja sama. Pengetahuan baru ini
mendorongnya kepada tindakan-tindakan lain dalam rangka penelitian, dengan
mengumpulkan data yang diperlukan. Setiap tindakan memberikan hasil baru dan informasi
untuk tindakan selanjutnya. Pada setiap tindakan Dabisch berbagi refleksi
dengan para mitra penelitinya dan di dalam laporan penelitiannya. Pada langkah berikutnya,
berdasarkan pengalaman ini, ia merencanakan penelitian tindakan baru mengenai
pemberian tugas kepada siswa yang mendorong mereka untuk belajar lebih kooperatif.
Ia menyatakan kepuasannya melakukan penelitian tindakan, yang dianggapnya telah
meningkatkan keterampilan mengajarnya. Inilah contoh dan bukti validitas hasil,
yang menunjukkan keberhasilan kelompok kerja siswa dan modifikasi yang
berkelanjutan yang dilakukan dalam praktik guru.
#Kedua
Validitas Proses, yaitu memeriksa kelayakan proses yang dikembangkan dalam
berbagai fase penelitian tindakan. Misalnya, bagaimana permasalahan disusun
kerangka pemikirannya dan bagaimana penyelesaiannya sedemikian rupa sehingga
peneliti di dalam menghadapinya mendapat kesempatan untuk terus belajar sesuatu
yang baru. Triangulasi data, perspektif yang majemuk dan keragaman sumber data
merupakan sumbangan kepada validitas proses. Laporan naratif merupakan
representasi atau penjelasan dari kenyataan yang dikomunikasikan melalui
berbagai bentuk cerita. Dalam menentukan kredibilitas dan derajat kepercayaan
narasi ini, haruslah setia kepada gambaran yang akurat dari apa yang sebenarnya
terjadi, dan bukan kisah subjektif atau dilebihlebihkan
agar
menarik.
#Ketiga
Validitas Demokratis, yaitu merujuk kepada sejauh mana PTK berlangsung
secara kolaboratif dengan para mitra peneliti, dengan perspektifyang beragam
dan perhatian terhadap bahan yang dikaji. Sebagai contoh, penelitian tindakan
kelas dari Dabisch, yang selama berlangsungnya penelitian ia melibatkan para
siswanya untuk mendapatkan kerja sama mereka dalam pengumpulan dan penafsiran
data misalnya. Dalam refleksinya, Dabisch mencatat bahwa berbagai apa yang ia
lakukan di kelas dalam rangka penelitiannya menyebabkan mereka merasa sebagai
bagian dari apa yang sedang terjadi, dan mereka mempunyai andil dalam suara
mereka, karena Dabisch selalu bertanya apa pendapat mereka dalam berbagai aspek
penelitian. Itulah upaya untuk memperkuat validitas demokratis dalam penelitian
tindakan kelas.
#Keempat
Validitas Katalistik (dari kata katalisator), yakni sejauh mana penelitian
berupaya mendorong partisipan mereorientasikan, memfokuskan dan memberi
semangat untuk membuka diri terhadap transformasi visi mereka dalam menghadapi
kenyataan kondisi praktik mengajar mereka sehari-hari. Validitas dalam aspek
ini ditunjukkan misalnya oleh catatan dalam jurnal yang dibuat oleh peneliti
dan mitra peneliti, yang dalam tahap refleksi akan menunjukkan proses perubahan
dalam dinamika pembelajaran di kelas yang menjadi latar sosial (social setting) dari penelitian.
#Kelima
Validitas Dialog, yaitu merujuk kepada dialog yang dilakukan dengan sebaya
mitra peneliti dalam menyusun dan mereview hasil penelitian beserta
penafsirannya. Dialog ini bisa dilaksanakan secara kolaboratif dalam merefleksi
dengan para mitra peneliti, dengan pakar peneliti di luar penelitian atau
dengan teman sejawat yang kritis berbagai aspek penelitian terutalna dalam
penjelasan data penelitian. Dabisch, dalam penelitian tindakan kelasnya,
ternyata melakukan banyak dialog dengan teman-teman kuliahnya di universitas.
Ia menyatakan bahwa kawan-kawan kuliahnya di universitas tempatnya melanjutkan
studi keguruan banyak membantu dalam melahirkan gagasan-gagasan untuk
mengembangkan penelitian lebih lanjut, dan menyadarkan dirinya tentang betapa
pentingnya menjadi anggota komunitas guru peneliti.
Sementara itu, Hopkins (1993:156)
dalam Rochiati (2008:168), berpendapat bahwa untuk menguji derajat
keterpercayaan atau derajat kebenaran penelitian, ada beberapa bentuk validasi yang
dapat dilakukan dalam penelitian tindakan kelas pertama, dengan melakukan member
check, yakni memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data
yang diperoleh selama observasi atau wawancara dari nara sumber yang relevan
dengan PTK (kepala sekolah, guru, teman sejawat, siswa, pegawai administrasi
sekolah, orang tua siswa, dan lainlain) apakah keterangan atau informasi atau
penjelasan itu tetap sifatnya atau tidak berubah sehingga dapat dipastikan
keajegannya dan data itu terperiksa kebenarannya. Kedua dengan triangulasi,
yaitu memeriksa kebenaran hipotesis, konstruk atau analisis dari si peneliti dengan
membandingkan hasil dari mitra peneliti. Triangulasi dilakukan berdasarkan tiga
sudut pandang, yakni sudut pandang guru sebagai peneliti, sudut pandang siswa
dan sudut pandang mitra peneliti yang melakukan pengamatan atau observasi. Ketiga, dengan melakukan saturasi, yakni
situasi pada waktu data sudah jenuh, atau tidak ada lagi data lain yang
berhasil dikumpulkan atau tidak ada lagi tambahan data baru. Keempat, dengan cara menggunakan
pembandingan atau dengan eksplanasi
saingan atau kasus negatif'. Peneliti
tidaklah melakukan upaya untuk menyanggah atau membuktikan kesalahan penelitian
saingan, melainkan mencari data yang akan mendukungnya. Apabila peneliti tidak
berhasil menemukannya, hal ini mendukung kepercayaan terhadap hipotesis,
konstruk, atau kategori dalam penelitian. Kelima
dengan audit trail, yakni
memeriksa kesalahan-kesalahan dalam metode atau prosedur yang digunakan
peneliti dan di dalam pengambilan kesimpulan. Selain itu, peneliti juga
memeriksa catatan-catatan yang ditulis oleh peneliti atau mitra peneliti. Audit
trail dapat dilakukan oleh kawan sejawat peneliti, yang memiliki pengetahuan dan
keterampilan melakukan penelitian tindakan kelas yang sama seperti peneliti itu
sendiri. Keenam, dengan expert opinion, yakni dengan meminta
kepada orang yang dianggap ahli atau pakar penelitian tindakan kelas atau pakar
bidang studi untuk memeriksa semua tahapan-tahapan kegiatan penelitian dan
memberikan arahan atau judgemenrs terhadap masalah-masalah penelitian yang
dikaji. Ketujuh dengan kry respondentsreview yakni meminta
salah seorang atau beberapa mitra peneliti yang banyak mengetahui tentang
penelitian tindakan kelas, untuk membaca draf awal laporan penelitian dan
meminta pendapatnya.
Berbagai cara validasi ini menurut Dunn
dan Swierezek dalam Hopkins (Rochiati,2008:171),
dilakukan agar dalam memunculkan secara grounded
hipotesis, konstruk, kategori, bahkan kemungkinan teori mendapat derajat keterpercayaan
yang tinggi, dan kita merasa percaya diri akan kehandalannya. aplikasi dari
teori yang grounded menjanjikan
kontribusi perbaiakan sesuai dengan derajat temuan yang pertama, merefleksikan kondisi yang aktual hadir dalam upaya
perubahan (internal validity); kedua, kondisi tipikal secara aktual
hadir dalam upaya perubahan (external
validity); ketiga, kontribusi
berbagai konsep baru melalui komparasi informasi yang terus menerus/berkelanjutan
dengan menggunakan berbagai metode (reflexivity);
keempat, meningkatkan pengertian di
antara kelompok-kelompok yang menggunakan kerangka referensi yang berbeda.
Kemudian Rochiati (2008:171)
menyimpulkan validasi data dan kredibilitas penelitian, yaitu dengan mengkaji
dan mengimplementasikan berbagai langkah validasi. Selanjutnya Rochiati
mengutip pendapat Peshkin dalam Creswell
(1998) standard kualitas penelitian kualitatif sangat ditentukan oleh kategori
untuk menguji definisi, interpretasi dan evaluasi, yang berlangsung secara
terus-menerus dan berkelanjutan selama pengumpulan data, analisis, dan
penuliisan laporan dilakukan.
Sedangkan Lincoln dan Guba (1985) dalam
Rochiati (2008:172) menyatakan bahwa standard yang harus dipegang dalam
penelitian kualitatif adalah pentingnya memiliki tradisi sendiri yang tegar dan
komunikatif melalui consensus; di samping pengakuan dan penghormatan terhadap
suara dan pandangan para mitra atau partisipan penelitian yang harus didengar
dan tidak boleh di diamkan atau disingkirkan; kecuali itu perlunya keasadaran
akan kondisi subyektif-kritis dari peneliti secara psikologis sebelum, selama,
dan sesudah peneltian berlangsung; serta pengakuan terhadap karakter
kolaboratif dan egalitarian diantara sesama mitra peneliti. Mengenai
bentuk-bentuk validasi untuk mencapai kredibilitas penelitian terdapat
pandangan yang mencari ekuivalen dari persyaratan validasi dalam penelitian kuantitatif
seperti validitas dan reliabelitas yang baku; akan tetapi ada
juga pendapat yang tidak setuju, karena akan mengaburkan konsep-konsep
prinsipil dalam penelitian kualitatif.
Pendapat Lincoln dan Guba lebih
cenderung untuk perpanajgan waktu di lapangan, triangulasi data, metode, dan investigator; serta menggunakan dependabilitas dan konfirmabilitas sebagai penganti reliabilitas. Borg dan Gall (2003) menganjurkan dipakainya validasi
proses, validasi demokratik, validasi katalitik, dan validasi dialog; mereka
juga mengakui kemungkinan bentuk validasi lain yang ditetapkan oleh para
peneliti sendiri. Sedangkan Hopkins (1993) mengajukan bentuk-bentuk validasi member check, triangulasi, saturasi, eksplanasi
saingan atau kasus negatif, audit trail, exxxpert opinion, dan key respondents review. [M3BG]]
[1]Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai
Pengembangan Profesi Guru.Ed 1,-4.-Jakarta: Rajawali Pers,2009.hlm.103
sangat cocok dijadikan referensi pengerjaan ptk, luangkan waktu anda berkunjung ke blog kami yang membahas tentang valiiditas secara berseri 1-5, ini seri 5. atau jika ada yang sudah pusing tinggal Konsultasi secara privat di WHatsApp.
BalasHapusbegitu ya, semoga bermanfaat.