Selasa, 18 November 2014

PTK YANG BAIK



SEBAGAIMANA sebuah penelitian, PTK yang baik dan dapat dipercaya akan terlihat dari bagaimana PTK itu dilakukan. Apakah dilakukan dengan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah, memalui metode ilmiah yang sesuai dengan standar ilmiah. Atau dilakukan sebaliknya melanggar kaidah-kaidah ilmiah melalui cara alamiah dengan standar alamiah. Derajat kepercayaan terhadap suatu penelitian menurut para ahli terlihat dari validitas dan kredibilitas pelaksanaan penelitian. Menurut mereka PTK yang tergolong bertradisi kualitatif dengan sifatnya yang deskriptif dan naratif memiliki cara-cara tersendiri dalam melakukan validasi dan reliabilitas. Validasi menunjuk pada derajat kesahihan terhadap proses dan hasil PTK, sedangkan reliabilitas mengarah pada sejauhmana metode yang sama menjanjikan hasil yang sama dengan kajian sebelumnya. Namun Anda tidak perlu terlalu khawatir, karena PTK tidak seketat jenis penelitian lain. Pasalnya PTK memiliki karakteristik kontektual dan situasional
          Penelitian kualitatif termasuk PTK dikatakan akurat dan dapat dipercaya dilihat dari standar kualitas tertentu.  Howe dan Eisenhardt (1990) dalam Ceswell (1998)[1] menyatakan ada lima standar, yaitu Pertama, Penilaian kajian terutama diarahkan kepada apakah pertanyaan penelitian mendorong dilakukannya pengumpulan data dan analisisnya, dan bukan sebaliknya. Kedua, Penilaian ditujukan kepada apakah pengumpulan data analisisnya secara teknis dilakukan dengan kompeten. Ketiga, Penilaian mempertanyakan apakah peneliti menyusun asumsi-asumsinya secara eksplisit, termasuk subjektivitas peneliti. Keempat, Penilaian juga perlu diarahkan kepada apakah kajian itu cukup tegar, dengan menggunakan eksplanasi yang berdasar kepada teori-teori yang diakui, serta mendiskusikan eksplanasi mengapa teori-teori tertentu ditolak. Kelima, Penilaian seharusnya memiliki "nilai", baik dalam memberikan informasi baru maupun dalam meningkatkan keterampilan meneliti, baik dalam melindungi hal-hal yang terkait dengan privasi seseorang maupun dalam memegang kebenaran dari semua partisipan penelitian (masalah etika penelitian).
          Konsep validitas dalam aplikasinya dalam PTK mengacu kepada kredibiltas dan derajat kepercayaan dari hasil penelitian.  Karena itu Borg dan Gal (2003) merujuk kepada Anderson dan Herr dalam Rochiati (2008:164) mengemukakan ada lima tahap kriteria validitas, yaitu sebagai berikut. #Pertama,  Validitas hasil, yang peduli dengan sejauh mana rindakan dilakukan untuk memecahkan masalah dan mendorong dilakukannya penelitian tindakan kelas atau dengan kata lain, seberapa jauh keberhasilan dapat dicapai. Dalam penelitian yang dilakukan para praktisi, perhatian tidak hanya tertuju kepada penyelesaian masalah semata, melainkan juga kepada bagaimana menyusun kerangka pemikiran dalam menyajikan masalah yang kompleks yang sering kali memicu munculnya masalah baru dan pertanyaan baru. Jadi kriteria ini mencakup juga sifat mengulang pada siklus-siklus penelitian tindakan kelas, dan pada dua tahap penting pada bagian akhirnya yakni pada refleksi dan pada saar menentukan tindakan lanjutan atau tindakan modifikasi dalam siklus baru.
          Sebagai contoh oleh Borg dan Gall dikemukakan penelitian tindakan kelas Dabisch, seorang guru yang tadinya hanya ingin mengubah posisi bangku belajar siswa dan melihat dampaknya, ternyata bahwa para siswa menyukai penataan bangku yang baru. Akan tetapi, perubahan tersebut memberikan dampak negatif, yaitu siswa lebih banyak berbicara yang bukan bahan pelajaran dan tidak mendorong mereka melakukan kerja sama. Pengetahuan baru ini mendorongnya kepada tindakan-tindakan lain dalam rangka penelitian, dengan mengumpulkan data yang diperlukan. Setiap tindakan memberikan hasil baru dan informasi untuk tindakan selanjutnya. Pada setiap tindakan Dabisch berbagi refleksi dengan para mitra penelitinya dan di dalam laporan penelitiannya. Pada langkah berikutnya, berdasarkan pengalaman ini, ia merencanakan penelitian tindakan baru mengenai pemberian tugas kepada siswa yang mendorong mereka untuk belajar lebih kooperatif. Ia menyatakan kepuasannya melakukan penelitian tindakan, yang dianggapnya telah meningkatkan keterampilan mengajarnya. Inilah contoh dan bukti validitas hasil, yang menunjukkan keberhasilan kelompok kerja siswa dan modifikasi yang berkelanjutan yang dilakukan dalam praktik guru.
          #Kedua Validitas Proses, yaitu memeriksa kelayakan proses yang dikembangkan dalam berbagai fase penelitian tindakan. Misalnya, bagaimana permasalahan disusun kerangka pemikirannya dan bagaimana penyelesaiannya sedemikian rupa sehingga peneliti di dalam menghadapinya mendapat kesempatan untuk terus belajar sesuatu yang baru. Triangulasi data, perspektif yang majemuk dan keragaman sumber data merupakan sumbangan kepada validitas proses. Laporan naratif merupakan representasi atau penjelasan dari kenyataan yang dikomunikasikan melalui berbagai bentuk cerita. Dalam menentukan kredibilitas dan derajat kepercayaan narasi ini, haruslah setia kepada gambaran yang akurat dari apa yang sebenarnya terjadi, dan bukan kisah subjektif atau dilebihlebihkan
agar menarik.
          #Ketiga Validitas Demokratis, yaitu merujuk kepada sejauh mana PTK berlangsung secara kolaboratif dengan para mitra peneliti, dengan perspektifyang beragam dan perhatian terhadap bahan yang dikaji. Sebagai contoh, penelitian tindakan kelas dari Dabisch, yang selama berlangsungnya penelitian ia melibatkan para siswanya untuk mendapatkan kerja sama mereka dalam pengumpulan dan penafsiran data misalnya. Dalam refleksinya, Dabisch mencatat bahwa berbagai apa yang ia lakukan di kelas dalam rangka penelitiannya menyebabkan mereka merasa sebagai bagian dari apa yang sedang terjadi, dan mereka mempunyai andil dalam suara mereka, karena Dabisch selalu bertanya apa pendapat mereka dalam berbagai aspek penelitian. Itulah upaya untuk memperkuat validitas demokratis dalam penelitian tindakan kelas.
          #Keempat Validitas Katalistik (dari kata katalisator), yakni sejauh mana penelitian berupaya mendorong partisipan mereorientasikan, memfokuskan dan memberi semangat untuk membuka diri terhadap transformasi visi mereka dalam menghadapi kenyataan kondisi praktik mengajar mereka sehari-hari. Validitas dalam aspek ini ditunjukkan misalnya oleh catatan dalam jurnal yang dibuat oleh peneliti dan mitra peneliti, yang dalam tahap refleksi akan menunjukkan proses perubahan dalam dinamika pembelajaran di kelas yang menjadi latar sosial (social setting) dari penelitian.
          #Kelima Validitas Dialog, yaitu merujuk kepada dialog yang dilakukan dengan sebaya mitra peneliti dalam menyusun dan mereview hasil penelitian beserta penafsirannya. Dialog ini bisa dilaksanakan secara kolaboratif dalam merefleksi dengan para mitra peneliti, dengan pakar peneliti di luar penelitian atau dengan teman sejawat yang kritis berbagai aspek penelitian terutalna dalam penjelasan data penelitian. Dabisch, dalam penelitian tindakan kelasnya, ternyata melakukan banyak dialog dengan teman-teman kuliahnya di universitas. Ia menyatakan bahwa kawan-kawan kuliahnya di universitas tempatnya melanjutkan studi keguruan banyak membantu dalam melahirkan gagasan-gagasan untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut, dan menyadarkan dirinya tentang betapa pentingnya menjadi anggota komunitas guru peneliti.
          Sementara itu, Hopkins (1993:156) dalam Rochiati (2008:168), berpendapat bahwa untuk menguji derajat keterpercayaan atau derajat kebenaran penelitian, ada beberapa bentuk validasi yang dapat dilakukan dalam penelitian tindakan kelas pertama, dengan melakukan member check, yakni memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang diperoleh selama observasi atau wawancara dari nara sumber yang relevan dengan PTK (kepala sekolah, guru, teman sejawat, siswa, pegawai administrasi sekolah, orang tua siswa, dan lainlain) apakah keterangan atau informasi atau penjelasan itu tetap sifatnya atau tidak berubah sehingga dapat dipastikan keajegannya dan data itu terperiksa kebenarannya. Kedua dengan triangulasi, yaitu memeriksa kebenaran hipotesis, konstruk atau analisis dari si peneliti dengan membandingkan hasil dari mitra peneliti. Triangulasi dilakukan berdasarkan tiga sudut pandang, yakni sudut pandang guru sebagai peneliti, sudut pandang siswa dan sudut pandang mitra peneliti yang melakukan pengamatan atau observasi. Ketiga, dengan melakukan saturasi, yakni situasi pada waktu data sudah jenuh, atau tidak ada lagi data lain yang berhasil dikumpulkan atau tidak ada lagi tambahan data baru. Keempat, dengan cara menggunakan pembandingan atau dengan eksplanasi saingan atau kasus negatif'. Peneliti tidaklah melakukan upaya untuk menyanggah atau membuktikan kesalahan penelitian saingan, melainkan mencari data yang akan mendukungnya. Apabila peneliti tidak berhasil menemukannya, hal ini mendukung kepercayaan terhadap hipotesis, konstruk, atau kategori dalam penelitian. Kelima dengan audit trail, yakni memeriksa kesalahan-kesalahan dalam metode atau prosedur yang digunakan peneliti dan di dalam pengambilan kesimpulan. Selain itu, peneliti juga memeriksa catatan-catatan yang ditulis oleh peneliti atau mitra peneliti. Audit trail dapat dilakukan oleh kawan sejawat peneliti, yang memiliki pengetahuan dan keterampilan melakukan penelitian tindakan kelas yang sama seperti peneliti itu sendiri. Keenam, dengan expert opinion, yakni dengan meminta kepada orang yang dianggap ahli atau pakar penelitian tindakan kelas atau pakar bidang studi untuk memeriksa semua tahapan-tahapan kegiatan penelitian dan memberikan arahan atau judgemenrs terhadap masalah-masalah penelitian yang dikaji. Ketujuh dengan kry respondentsreview yakni meminta salah seorang atau beberapa mitra peneliti yang banyak mengetahui tentang penelitian tindakan kelas, untuk membaca draf awal laporan penelitian dan meminta pendapatnya.
          Berbagai cara validasi ini menurut Dunn dan Swierezek  dalam Hopkins (Rochiati,2008:171), dilakukan agar dalam memunculkan secara grounded hipotesis, konstruk, kategori, bahkan kemungkinan teori mendapat derajat keterpercayaan yang tinggi, dan kita merasa percaya diri akan kehandalannya. aplikasi dari teori yang grounded menjanjikan kontribusi perbaiakan sesuai dengan derajat temuan yang pertama, merefleksikan kondisi yang aktual hadir dalam upaya perubahan (internal validity); kedua, kondisi tipikal secara aktual hadir dalam upaya perubahan (external validity); ketiga, kontribusi berbagai konsep baru melalui komparasi informasi yang terus menerus/berkelanjutan dengan menggunakan berbagai metode (reflexivity); keempat, meningkatkan pengertian di antara kelompok-kelompok yang menggunakan kerangka referensi yang berbeda.
          Kemudian Rochiati (2008:171) menyimpulkan validasi data dan kredibilitas penelitian, yaitu dengan mengkaji dan mengimplementasikan berbagai langkah validasi. Selanjutnya Rochiati mengutip pendapat Peshkin  dalam Creswell (1998) standard kualitas penelitian kualitatif sangat ditentukan oleh kategori untuk menguji definisi, interpretasi dan evaluasi, yang berlangsung secara terus-menerus dan berkelanjutan selama pengumpulan data, analisis, dan penuliisan laporan dilakukan.
          Sedangkan Lincoln dan Guba (1985) dalam Rochiati (2008:172) menyatakan bahwa standard yang harus dipegang dalam penelitian kualitatif adalah pentingnya memiliki tradisi sendiri yang tegar dan komunikatif melalui consensus; di samping pengakuan dan penghormatan terhadap suara dan pandangan para mitra atau partisipan penelitian yang harus didengar dan tidak boleh di diamkan atau disingkirkan; kecuali itu perlunya keasadaran akan kondisi subyektif-kritis dari peneliti secara psikologis sebelum, selama, dan sesudah peneltian berlangsung; serta pengakuan terhadap karakter kolaboratif dan egalitarian diantara sesama mitra peneliti. Mengenai bentuk-bentuk validasi untuk mencapai kredibilitas penelitian terdapat pandangan yang mencari ekuivalen dari persyaratan validasi dalam penelitian kuantitatif seperti validitas dan reliabelitas yang baku; akan tetapi ada juga pendapat yang tidak setuju, karena akan mengaburkan konsep-konsep prinsipil dalam penelitian kualitatif.
          Pendapat Lincoln dan Guba lebih cenderung untuk perpanajgan waktu di lapangan, triangulasi data, metode, dan investigator; serta menggunakan dependabilitas dan konfirmabilitas sebagai penganti reliabilitas. Borg dan Gall (2003) menganjurkan dipakainya validasi proses, validasi demokratik, validasi katalitik, dan validasi dialog; mereka juga mengakui kemungkinan bentuk validasi lain yang ditetapkan oleh para peneliti sendiri. Sedangkan Hopkins (1993) mengajukan bentuk-bentuk validasi member check, triangulasi, saturasi, eksplanasi saingan atau kasus negatif, audit trail, exxxpert opinion, dan key respondents review. [M3BG]]


[1]Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru.Ed 1,-4.-Jakarta: Rajawali Pers,2009.hlm.103

1 komentar:

  1. sangat cocok dijadikan referensi pengerjaan ptk, luangkan waktu anda berkunjung ke blog kami yang membahas tentang valiiditas secara berseri 1-5, ini seri 5. atau jika ada yang sudah pusing tinggal Konsultasi secara privat di WHatsApp.
    begitu ya, semoga bermanfaat.

    BalasHapus